Menterjemah Duka

Saat pertama kali kukenal rindu, Sungguh asyik menangis sepi. Namun bila masanya kian benci, Oh, pasti benci itu lonjak pergi. Jangan disalah aku berpasrah, Padahal tipu selalu hati ini. Jika ditimbang zatnya kecewa, Sakti apapun kamu, tidak keruan jarumnya. Tokok tambahlah lagi sebabnya, Supaya kukuh melangkah tiada sesalan. Kan manusia itu selalu keliru, Antara sendiriContinue reading “Menterjemah Duka”